Freud dan Manusia Digital: Tubuh-Psikis-Teknologi

Oleh : Dr. Dharma Leksana, M.Th., MSi.

1. Pendahuluan: Ketika Subjek Freud Menjelma “Subjek Digital”

Jika Sigmund Freud hidup pada abad ke-21, besar kemungkinan ia akan menemukan bahwa “manusia modern” telah bertransformasi menjadi apa yang kini disebut sebagai subjek digital—yaitu individu yang eksistensinya terjalin antara tubuh biologis dan tubuh kedua (second body) berupa profil daring, jejak data, algoritma rekomendasi, hingga avatar media sosial. Transformasi ini bukan sekadar perubahan gaya hidup; ia mengguncang struktur psikis manusia itu sendiri.

Menurut Sherry Turkle, teknologi digital tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga membentuk kembali cara mereka memahami diri sendiri, emosi, dan relasi sosial.^1 Teknologi tidak lagi berada di luar diri manusia—ia menyusup ke ruang batin, menjadi bagian dari struktur keinginan, ketakutan, fantasi, dan representasi diri. Dengan demikian, psikoanalisis Freud tetap sangat relevan untuk membedah fenomena-fenomena psikis baru seperti kecanduan media sosial, over-sharing, persona digital, body dysmorphia berbasis filter kamera, hingga komodifikasi perhatian.

Artikel ini akan  mengurai bagaimana gagasan-gagasan utama Freud—id, ego, superego; represi; narsisme; kecemasan; “das Unheimliche”—mengalami transformasi ketika berjumpa dengan masyarakat digital.

2. Id dalam Dunia Digital: Keinginan Tanpa Batas, Impuls Tanpa Rem

2.1. Id sebagai Mesin Keinginan di Era Aplikasi

Dalam kerangka Freud, id adalah sumber dorongan dasar manusia yang menuntut kepuasan segera, tanpa logika maupun moralitas.^2 Dunia digital menyediakan “ruang bermain id” yang hampir sempurna: cepat, instan, impulsif, dan terus-menerus memancing hasrat. Notifikasi, tombol “like”, infinite scroll, dan autoplay adalah desain yang menyasar sistem impulsif otak manusia.

Secara psikoanalitik, dunia digital:

  • menguatkan impuls konsumtif,
  • menurunkan ambang penundaan kepuasan,
  • menciptakan relasi patologis antara manusia dan gawai,
  • memicu kompulsivitas baru (doomscrolling, binge-watching).

Tristan Harris menyebut desain digital ini sebagai intermittent variable rewards, mekanisme yang sama yang ditemukan pada mesin judi Las Vegas.^3 Dengan demikian, digitalisasi menciptakan ruang potensial bagi dominasi id atas ego.

2.2. Komodifikasi Hasrat dan Ekonomi Perhatian

Era digital adalah era ketika hasrat menjadi komoditas. Platform media sosial memonetisasi perasaan ingin diakui, ingin didengar, bahkan rasa iri dan kecemasan sosial. Hasrat tidak lagi menjadi dinamika intrapsikis, tetapi kini diatur, dikurasi, dan dieksploitasi oleh algoritma.

Freud menulis bahwa manusia tidak pernah benar-benar bebas dari dorongan bawah sadar.^4 Dalam masyarakat digital, dorongan ini bukan hanya tidak dibebaskan, tetapi juga diarahkan untuk kepentingan ekonomi. Pengguna merasa “berkehendak bebas”, padahal mereka mengikuti pola dorongan yang telah direkayasa.

2.3. Ego: Antara Identitas Diri dan Persona Digital

2.3.1. Ego dalam Negosiasi Identitas di Ruang Siber

Dalam psikoanalisis, ego adalah mekanisme pengatur antara dorongan id dan tuntutan realitas.^5 Namun kini “realitas” sendiri telah bercabang menjadi dua:

  1. realitas offline (tubuh biologis), dan
  2. realitas online (tubuh digital).

Konsekuensinya, ego modern harus bekerja double shift: mengelola dua identitas yang saling tumpang tindih. Fenomena seperti curated self, performative authenticity, hingga digital self-branding menunjukkan beban baru pada ego.

Manusia digital bukan hanya menjadi diri mereka; mereka harus mengelola bagaimana diri itu tampak bagi orang lain. Proses ini mirip mekanisme Narzissmus dan ideal ego dalam Freud: individu menghadirkan citra ideal untuk mendapatkan cinta dan pengakuan.^6

2.3.2. Narcissistic Culture dan Selfie Society

Christopher Lasch menyebut bahwa masyarakat modern telah bergeser ke arah “budaya narsistik”.^7 Di era digital, kecenderungan ini meningkat drastis:

  • selfie dan filter memperkuat narsisme visual;
  • pencarian “likes” menjadi bentuk baru kebutuhan afektif;
  • validasi digital menjadi ukuran nilai diri;
  • algoritma memperkuat kecenderungan memamerkan persona ideal.

Dari perspektif Freud, narsisme digital memperlihatkan bagaimana libido terikat pada citra diri yang terus dirawat dan dipromosikan. Dengan kata lain, narsisme di media sosial bukan penyimpangan, tetapi sebuah struktur psikologis baru.

2.4. Superego Digital: Moralitas Algoritmik dan Rasa Bersalah Kolektif

2.4.1. Superego Sebagai Penjaga Norma Sosial

Superego dalam psikoanalisis adalah instansi moral, suara transendental yang menilai tindakan ego dan menghukum melalui rasa bersalah.^8 Di masyarakat digital, superego mengalami metamorfosis menjadi apa yang dapat disebut superego kolektif-algoritmik.

Ia bekerja melalui:

  • budaya cancelation,
  • policing moral di media sosial,
  • tuntutan untuk selalu tampil benar secara politis (political correctness),
  • mekanisme shame dan public shaming.

Superego digital tidak memiliki wajah; ia adalah “suara kolektif” yang muncul dari komentar anonim, trending topic, atau algoritma rekomendasi.

2.4.2. Rasa Bersalah dan Kecemasan Moralis di Media Sosial

Dalam pengamatan Freud, rasa bersalah dapat muncul bahkan tanpa kesalahan nyata.^9 Di era digital, fenomena ini tampak pada:

  • kecemasan ketika tidak mendapatkan respon (“apakah postingan saya salah?”),
  • rasa takut dibatalkan (cancel culture),
  • tekanan menjadi selalu update isu moral terbaru.

Superego digital menciptakan over-moralization: bukan hanya apa yang dilakukan yang dinilai, tetapi siapa seseorang itu, berdasarkan jejak digitalnya. Ini adalah bentuk paling radikal dari superego: the gaze of the Other yang tidak pernah tidur.

2.5. Das Unheimliche dan Ketakutan Baru di Dunia Digital

Freud memperkenalkan konsep das Unheimliche—sesuatu yang sekaligus akrab dan asing, yang memunculkan ketakutan eksistensial.^10 Dalam konteks digital, unheimlich muncul dalam berbagai fenomena:

  • kecerdasan buatan yang “terlalu mirip manusia”,
  • avatar atau deepfake yang menyerupai diri sendiri,
  • uncanny valley dalam robot dan animasi,
  • rasa tidak nyaman ketika algoritma “mengetahui” keinginan kita sebelum kita menyadarinya.

Digital uncanny memperlihatkan bagaimana batas antara manusia dan mesin menjadi semakin kabur. Ketidakpastian identitas inilah yang memicu kecemasan baru masyarakat digital.

2.6. Represi Baru dan Simptom Baru: Dari Neurosis ke Info-Overload

2.6.1. Represi Diri dalam Kehidupan Kurasi

Represi dalam psikoanalisis adalah mekanisme yang menyingkirkan dorongan tak pantas ke dalam ketidaksadaran.^11 Namun dalam era digital, represi bekerja dalam bentuk baru: represi performatif. Individu menekan bagian diri yang dianggap tidak layak tampil di media sosial.

Yang direpresi bukan hanya memori atau dorongan, tetapi identitas. Manusia digital hidup dengan dua diri: diri yang ditampilkan dan diri yang disembunyikan.

2.6.2. Trauma Digital dan Psikopatologi Baru

Psikopatologi era digital bersifat unik:

  • cyberbullying sebagai trauma yang tetap hidup karena jejak digital;
  • FOMO (fear of missing out) sebagai kecemasan eksistensial;
  • infomania dan overload sebagai bentuk neurosis baru;
  • burnout digital akibat hiper-produktivitas dan konektivitas total.

Semua ini memperlihatkan bahwa psikoanalisis perlu diperluas, tetapi tidak ditinggalkan.

2.7. Kesimpulan: Freud Tetap Hidup di Era Digital

Analisis dalam artikel ini menunjukkan bahwa teori-teori Freud bukan saja masih relevan, tetapi justru menemukan relevansi baru dalam masyarakat digital. Id, ego, dan superego bertransformasi ketika manusia hidup di bawah rezim algoritma dan ekonomi perhatian. Fenomena digital bukan sekadar teknologi; ia adalah lanskap psikis baru yang menuntut pembacaan psikoanalitik yang mendalam.

Catatan Kaki (Chicago Notes-Bibliography Style)

  1. Sherry Turkle, Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Books, 2011).
  2. Sigmund Freud, The Ego and the Id, trans. Joan Riviere (London: Hogarth Press, 1927), 18–19.
  3. Tristan Harris, “How Technology Hijacks People’s Minds,” Medium (2016).
  4. Sigmund Freud, Civilization and Its Discontents, trans. James Strachey (New York: Norton, 1961), 74.
  5. Freud, The Ego and the Id, 25–30.
  6. Sigmund Freud, “On Narcissism,” in The Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud, Vol. 14 (London: Hogarth Press, 1957), 67–72.
  7. Christopher Lasch, The Culture of Narcissism (New York: Norton, 1979).
  8. Freud, The Ego and the Id, 42–45.
  9. Freud, Civilization and Its Discontents, 88.
  10. Sigmund Freud, “The Uncanny,” in The Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud, Vol. 17 (London: Hogarth Press, 1955), 217–256.
  11. Sigmund Freud, Introductory Lectures on Psychoanalysis, trans. James Strachey (New York: Norton, 1966).

Penulis

Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.

Doktor Dharma Leksana adalah seorang teolog, wartawan senior, dan pegiat media digital gerejawi. Ia menyelesaikan pendidikan teologi di Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, tahun 1994 dan melanjutkan studi Magister Ilmu Sosial (M.Si.) dengan fokus pada media dan masyarakat. Gelar Magister Theologi (M.Th.) diperoleh melalui tesis berjudul “Teologi Digital: Sebagai Upaya Menerjemahkan Misiologi Gereja di Era Society 5.0”.

Langkah akademiknya mencapai puncak pada jenjang Doktor Teologi (D.Th.) di Sekolah Tinggi Teologi Dian Harapan, Jakarta, dengan predikat Cum Laude. Disertasinya yang fenomenal berjudul “Algorithmic Theology: A Conceptual Map of Faith in the Digital Age” melahirkan gagasan Teologi Algoritma—sebuah locus baru dalam upaya kontekstualisasi iman di tengah realitas digital. Melalui penelitian tersebut, ia menegaskan bahwa algoritma dapat dipahami sebagai locus theologicus baru, sementara Logos—Sabda Allah—tetap menjadi pusat iman Kristen, bahkan di era logika algoritmik yang mendominasi kehidupan digital.

Disertasi tersebut kini telah diterbitkan dalam dua versi:

  • “Teologi Algoritma: Peta Konseptual Iman di Era Digital” (Bahasa Indonesia)
    👉 Baca di sini
  • “Algorithmic Theology: A Conceptual Map of Faith in the Digital Age” (Bahasa Inggris)
    👉 Baca di sini

Karya akademisnya pada jenjang magister juga sudah dibukukan dalam “Membangun Kerajaan Allah di Era Digital” 👉 akses di sini serta dapat dilihat lengkap 👉 di sini.

Selain karya ilmiah, Dharma Leksana produktif menulis ratusan buku dalam bentuk penelitian akademik, buku populer, kumpulan puisi, hingga novel. Karya-karya tersebut dapat diakses melalui TOKO BUKU PWGI 👉 lihat koleksi.

Kiprah Organisasi & Media

Di ranah pelayanan dan media, Dharma Leksana adalah:

Selain itu ia juga aktif memimpin sejumlah lembaga dan perusahaan:

  • Direktur PT. Berita Siber Indonesia Raya (BASERIN)
  • Komisaris PT. Berita Kampus Mediatama
  • Komisaris PT. Media Kantor Hukum Online
  • Pendiri & CEO tokogereja.com
  • Ketua Umum Yayasan Berita Siber Indonesia
  • Direktur PT. Untuk Indonesia Seharusnya

Karya dan Pengaruh

Sebagai pemikir sekaligus pelaku, Dharma Leksana memposisikan dirinya sebagai jembatan antara teologi, pewartaan digital, dan transformasi sosial. Ia aktif menulis buku, artikel, serta menjadi narasumber dalam berbagai forum gereja, akademik, dan media.

Karya-karya populer yang banyak dibaca antara lain:

  • Mencari Wajah Allah di Belantara Digital 👉 akses
  • Jejak Langkah Misiologi Gereja Perdana 👉 akses
  • Agama, AI, dan Pluralisme 👉 akses
  • Fenomenologi Edmund Husserl di Era Digital 👉 akses
  • Alvin Toffler dan Teologi Digital 👉 akses
  • Algoritma Tuhan: Refleksi tentang Sang Programmer Alam Semesta 👉 akses
  • Jurnalisme Profetik di Era Digital 👉 akses
  • Teologi Digital dalam Perspektif Etika Dietrich Bonhoeffer 👉 akses

Dr. Dharma Leksana terus melanjutkan kiprahnya sebagai seorang teolog digital, jurnalis profetik, dan pendidik iman, dengan visi membangun komunikasi Kristen yang kontekstual, transformatif, dan selaras dengan dinamika zaman digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!