Sejarah Tahun Baru Masehi: Dari Penanggalan Peradaban Kuno hingga Refleksi Teologis Kristen atas Waktu
Penulis : Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Resensi Buku: Menguduskan Waktu di Tengah Arus Digital
Judul Buku : Waktu dan Kalender Masehi dalam Perspektif Kristen: Sejarah, Teologi, dan Tantangan Peradaban Modern
Penulis: Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Penerbit: PT. Dharma Leksana Media Group (2025)
Pendahuluan: Mengapa Tahun Baru Dirayakan?
Buku ini berangkat dari sebuah kegelisahan akademik dan pastoral mengenai dangkalnya pemaknaan waktu dalam masyarakat modern. Tahun Baru Masehi sering kali dirayakan secara masif namun kehilangan refleksi iman atas makna “awal” dan pengharapan. Dr. Dharma Leksana mengajak kita melihat bahwa kalender bukan sekadar alat administratif yang netral, melainkan konstruksi historis yang sarat makna teologis.
Akar Sejarah: Dari Romawi hingga Transformasi Kristen
Buku ini menelusuri bahwa kalender Masehi berakar kuat pada peradaban Romawi. Sebelum mengalami Kristenisasi, bangsa Romawi telah menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun sipil sejak 153 SM untuk kepentingan politik dan administratif. Nama “Januari” sendiri diambil dari Dewa Yanus, dewa bermuka dua yang melambangkan ambang pintu dan transisi—memandang ke masa lalu sekaligus masa depan.
Gereja perdana tidak menghapus struktur waktu Romawi ini, melainkan melakukan inkulturasi. Alih-alih merayakan dewa pagan, Gereja mengisi tanggal tersebut dengan makna baru, seperti perayaan Sunat Yesus (8 hari setelah Natal), sehingga waktu yang lama ditransformasikan dalam terang Kristus, Sang Alfa dan Omega.
Pusat Teologis: Inkarnasi sebagai Titik Balik Waktu
Thesis utama buku ini adalah bahwa Inkarnasi Yesus Kristus merupakan pusat teologi waktu Kristen. Ketika Allah yang kekal memasuki sejarah manusia (chronos), Ia menguduskan waktu tersebut menjadi saat yang penuh makna ilahi (kairos).
• Waktu sebagai Anugerah: Waktu bukan musuh yang harus dikejar demi produktivitas, melainkan anugerah yang harus ditebus15151515.
• Sejarah Linear: Berbeda dengan konsep siklikal (lingkaran) peradaban kuno, Kristen memandang waktu memiliki tujuan akhir yang jelas dalam rencana keselamatan Allah16161616.
Tantangan Modern: Sekularisasi dan Peradaban Digital
Pada bagian akhir, monograf ini memberikan kritik tajam terhadap “percepatan ekstrem” di era digital. Di dunia digital, waktu sering kali terfragmentasi oleh algoritma dan ekonomi atensi, yang menyebabkan manusia kehilangan kemampuan untuk kontemplasi dan kehadiran utuh dalam doa. Penulis menyerukan Gereja untuk menghadirkan ritme hidup alternatif melalui liturgi dan praktik Sabat sebagai bentuk “resistensi spiritual” terhadap logika produktivitas tanpa henti.
Kesimpulan
Buku ini sangat relevan bagi akademisi, mahasiswa teologi, maupun umat awam yang ingin memahami mengapa kita menggunakan sistem penanggalan yang sekarang berlaku. Penulis berhasil menyatukan perspektif sejarah, astronomi, dan teologi ke dalam sebuah narasi yang mengajak kita untuk “menebus waktu” di tengah peradaban yang terus bergerak cepat.
Kata Kunci
Teologi Waktu Kristen,
Sejarah Kalender Masehi,
Makna Tahun Baru Masehi,
Inkarnasi dan Waktu,
Dharma Leksana Teologi Digital,
Resensi Buku Kalender Masehi,
Kairos dan Chronos
Hashtag
#TahunBaruMasehi, #TeologiWaktu, #ResensiBuku, #KalenderMasehi, #ImanKristen, #DharmaLeksana, #SejarahWaktu, #LiterasiKristen, #TeologiDigital, #MenebusWaktu, #Kairos, #RenunganTahunBaru, #Chronos
SELAMAT MENYONGSONG TAHUN BARU 2026


